Get it on Google Play

Hari Penglihatan Sedunia, Masyarakat Masih Abaikan Kesehatan Mata


dokter spesialis mata klinik Kuningan Eye Center, Achmad Budi Utomo, Kamis malam (12/10/2017) terkait Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day). Erix/KC Online

KUNINGAN, (KC Online).-

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2012 menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat kedua dengan tingkat kebutaan penduduknya. Sementara di posisi pertama diduduki Ethiopia.

Tingkat kebutaan itu dikarenakan masyarakat mengabaikan kesehatan mata dan ancaman kebutaan. Padahal mata merupakan indera yang sangat penting dalam hidup manusia.

Hal tersebut diungkapkan dokter spesialis mata klinik Kuningan Eye Center, Achmad Budi Utomo, Kamis malam (12/10/2017) terkait Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day).

“Dari data WHO tahun 2012, Indonesia menduduki rangking dua di dunia dalam hal penyakit kebutaan, dan kalau di Asia Tenggara, kita paling tinggi, mungkin juga sebab jumlah populasi penduduk Indonesia sangat banyak,” kata Achmad Budi Utomo.

Menurut dokter mata yang juga praktik di RSU’45 Kuningan ini, tingkat kebutaan mata disinyalir akibat dari penyakit katarak, selain dari kecelakaan yang mengakibatkan luka pada bola mata. Di Kuningan, lanjutnya, penyebab kebutaan banyak diakibatkan dari penyakit katarak.

“Masyarakat masih menganggap kalau penyakit katarak tidak terlalu bahaya dan rentan menyebabkan kematian, hingga banyak masyarakat awam yang enggan memeriksakannya. Bisa juga sebab kendala ekonomi lemah, masyarakat tidak segera mengobati penyakit kataraknya. Padahal, fungsi mata itu sangat penting dalam menjalani kehidupan,” tuturnya.

Diungkapkan Achmad Budi Utomo, data pasien RSU’45 Kuningan menyebutkan bahwa jumlah pasien katarak sangat banyak. Menekan angka kebutaan yang diakibatkan ketelatan dalam operasi katarak, maka seiring bertepatan dengan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day), dirinya berkomitmen memberikan pelayanan di kliniknya.

Hal itu didasarkan karena di RSU’45 Kuningan, ia hanya mampu mengoperasi penderita katarak sebanyak 5 pasien. Sementara daftar pasien operasi lumayan banyak, bahkan terkadang ada yang daftar sekarang tapi bulan depan baru bisa operasi.

Kamis di minggu kedua Oktober, ditambahkan dia, sejak tahun 2013 dikoordinasikan oleh Lembaga Internasional, International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB), sebagai bentuk aksi global dari World Health Organization (WHO) untuk pencegahan kebutaan dan gangguan penglihatan.

“Dari keprihatinan itu, saya sudah dua tahun ini berjalan membuka klinik mata agar bisa melayani pengobatan penderita katarak, selain di rumah sakit. Dan, alhamdulillah, kini angka penderita katarak bisa menurun, dan penyebab kebutaan bisa kita kurangi,” tuturnya.

Pada sisi lain, ia mengajak semua pihak bisa bergerak dalam menurunkan angka kebutaan di Indonesia. Jangan menganggap ini semata-mata tanggung jawab pemerintah saja.

“Dalam menurunkan angka kebutaan di masyarakat, kini sudah ada kegiatan bhakti sosial, baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta. Sekarang, juga masyarakat bisa memanfaatkan kartu Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari BPJS Kesehatan.
Meskipun masih banyak masyarakat yang masih belum menggunakan fasilitas ini. Untuk itu kita gencar melakukan edukasi dan koordinasi yang lebih baik dengan semua pihak terkait, mudah-mudahan angka kebutaan dan penyakit katarak di Kabupaten Kuningan bisa cepat menurun,” pungkasnya.(Erix/KC Online)

Sumber : KabarCirebon

Disclaimer: gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini menjadi tanggungjawab sumber.
loading...