Berita

Pemerintah Harus Jadi Fasilitator untuk Menggali Potensi Pariwisata



Angklung Bungko salah satu kesenian tari CIrebon dipertunjukan dalam Festival Pesona Cirebon di Gua Sunyaragi Cirebon, Kamis (31/3/2016).* Iwan/KC
Angklung Bungko salah satu kesenian tari CIrebon dipertunjukan dalam Festival Pesona Cirebon di Gua Sunyaragi Cirebon, belum lama ini.* Iwan/KC

UNTUK menggali potensi pariwisata di Cirebon butuh keseriusan dari semua pihak. Terutama pemerintah daerah untuk menjadi fasilitator dalam mengangkat kesenian dan kebudayaan yang ada. Padahal, kalau bisa mengangkat kesenian dan kebudayaan, makan potensi wisata dengan sendirinya akan terdongkrak.

Menurut filolog, Opan Raffan S Hasyim, selama ini belum ada sinergitas antarlembaga, baik itu eksekutif, legislatif dan pelaku seni budaya. Ke depannya, pemerintah sendiri harus memiliki program, perencanaan terkait pemberdayaan potensi yang ada. Mulai dari tahapan pembinaan, penyediaan fasilitas dan tempat apresiasi serta promosi harus lebih digencarkan.

“Kualitas para seniman dapat terseleksi dengan pasar, sehingga seniman yang muda bisa belajar kepada yang lebih senior jika sering adanya event atau kegiatan melalui tontonan,” katanya.

Sementara pemerhati seni dan budaya, Mustakim Asteja, menjelaskan, pemerintah belum mampu memasukkan seni dan budaya yang bisa mengangkat pariwisata daerah ke dalam visi dan misi pimpinan daerahnya.

“Seni dan budaya belum mendapatkan porsi yang cukup. Namun, baru sekadar dari sisi fundamental, dan esensial saja. Bahkan, koordinasi antarpemerintah kurang sinergis,” katanya.

Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi Unswagati Cirebon, Moh. Yudi Mahadianto, memandang berkembangnya hotel-hotel di Kota Cirebon sekarang ini memiliki dampak positif untuk sektor perekonomian di Cirebon.
Ia berharap, pariwisata yang ada di Cirebon bisa dikelola secara profesional dan itu harus didukung oleh pemerintah daerah setempat. “Selama ini kita melihat bahwa pemerintah daerah kurang perhatian karena anggarannya kurang untuk pariwisata,” katanya.

Citra kota

Sementara itu, Walikota Cirebon, Nasrudin Azis akan menerapkan “City Branding” atau citra kota dalam upaya dan strategi suatu kota untuk membuat positioning yang kuat mulai dari regional maupun global.

Dengan adanya “City Branding”, dapat membentuk identitas kota yang berguna untuk memasarkan segala aktivitas kegiatan, sarana serta budaya yang ada.

Hal itu dilakukan agar citra kota bisa dikenal luas (high awareness), disertai dengan persepsi yang baik. Kemudian bisa dianggap sesuai untuk tujuan-tujuan khusus (specific purposes). Selanjutnya, kota tersebut dianggap tepat untuk tempat investasi, tujuan wisata, tujuan tempat tinggal, dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan (event) dan sebagai tempat dengan kemakmuran dan keamanan yang tinggi.

Dikatakan Azis, konsepnya sendiri yakni “mapping survey” yang meliputi survei persepsi dan ekspektasi tentang suatu daerah, baik dari masyarakat daerah itu sendiri maupun pihak-pihak luar yang mempunyai keterkaitan dengan daerah itu.
“Kemudian ‘competitive analysis’ yaitu melakukan analisis daya saing baik di level makro maupun mikro daerah itu sendiri. Langkah yang berikutnya adalah membuat blueprint, yakni penyusunan cetak biru atau grand design daerah yang diinginkan, baik logo, semboyan, ”nick names”, ”tag line”, dan lain sebagainya beserta strategi branding dan strategi komunikasinya,” paparnya.(C-13/C-16/C-31)

loading…


To Top
TERHANGAT